Siti Wulandari

by Siti Wulandari

Thu, 11 August 2016

Keunikan Prosesi Pernikahan Adat Bali

Keunikan Prosesi Pernikahan Adat Bali

Ada istilah yang mengatakan bahwa sebuah foto bisa bercerita lebih dari 1000 kata. Namun terkadang, untuk mengabadikan dan menceritakan sebuah momen dibutuhkan lebih dari sebuah foto. Karena itulah Kotak Imaji menghadirkan Photo Story untuk menampilkan momen-momen yang menarik dalam kehidupan. Salah satu momen yang unik serta menarik adalah proses pernikahan adat Bali.

 

 

Bali merupakan salah satu destinasi wisata terbaik yang dimiliki Indonesia. Masyarakat serta budayanya pun sudah mendunia. Mengenai budaya Bali, tidak hanya seni tari dan seni ukir yang memiliki nilai keindahan serta keunikan yang tinggi, melainkan budaya dalam pernikahannya juga memiliki keunikan tersendiri. Kenapa pernikahan adat Bali dikatakan unik? Karena dalam pelaksanaannya, prosesi pernikahan akan dilakukan di kediaman calon mempelai pria. Oleh karena itu, Kotak Imaji mencoba untuk memberikan sedikit wawasan mengenai tata cara atau prosesi yang terjadi dalam pernikahan adat bali. Berikut ulasannya :

1. Menentukan Hari Baik

Sebelum melaksanakan beberapa rangkaian adat pernikahan, langkah awal yang biasa dilakukan adalah menentukan hari baik. Penentuan hari baik ini melibatkan kedua belah pihak keluarga yang dilakukan setelah keluarga calon mempelai pria memadik atau ngindih (Melamar) calon mempelai wanita. Masih cukup banyak masyarakat Bali yang masih mempercayai akan hari baik untuk melangsungkan pernikahan antara calon mempelai pria dan wanita.

 

2. Upacara Ngekeb 

Dalam kegiatan ini, calon mempelai wanita akan diberi luluran yang terbuat dari berbagai macam bahan-bahan, mulai dari kunyit, bunga kenanga, daun merak, beras yang telah dihaluskan serta air merang untuk keramas. Sesudah acara mandi dan keramas, akan dilanjutkan dengan upacara di dalam kamar pengantin yang sebelumnya telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon mempelai wanita tidak diperbolehkan lagi untuk keluar dari kamar hingga calon mempelai pria datang untuk menjemput.

  

3. Penjemputan Calon Mempelai Wanita

Pada umumnya pelaksanaan pernikahan adat di kebanyakan daerah dilakukan di kediaman calon mempelai wanita, tetapi untuk adat Bali tidak sama seperti yang terjadi pada umumnya. Dalam adat Bali, pelaksanaan pernikahan dilakukan di kediaman calon mempelai pria, hal ini merupakan yang menjadi latar belakang terjadinya proses penjemputan calon mempelai wanita. Namun, sebelum terjadi proses penjemputan, calon mempelai wanita akan diselimuti dengan kain kuning tipis di seluruh tubuhnya. Kain kuning pembungkus tersebut diibaratkan sebagai tanda bahwa calon mempelai wanita telah siap untuk menempuh kehidupan yang baru, yaitu menjadi wanita dewasa yang siap menjadi istri serta ibu rumah tangga yang baik.

 

4. Mungkah Lawang (Buka Pintu)

Mungkah Lawang merupakan suatu prosesi dimana terdapat seorang utusan dari calon mempelai pria yang bertugas untuk mengetuk pintu calon mempelai wanita sebanyak tiga kali. Selain itu, seorang Malat juga diutus oleh calon mempelai pria untuk melantunkan tembang Bali tentang kehadiran calon mempelai pria untuk menjemput calon mempelai wanita. Selesai dengan syair dari Malat calon mempelai pria, syair balasan juga dilantunkan oleh Malat dari calon mempelai wanita yang berisikan kesiapan calon mempelai wanita untuk dibawa oleh calon mempelai pria. Setelah mendapat izin dari pihak keluarga, maka calon mempelai wanita diajak menuju tandu untuk segera dibawa ke kediaman calon mempelai pria yang hanya didampingi oleh seorang utusan dari pihak keluarga calon mempelai wanita untuk menyaksikan upacara pernikahan.

 

5. Mesegehagung

Ritual mesegehagung merupakan suatu upacara penyambutan calon mempelai wanita. Setibanya di kediaman calon mempelai pria, kedua calon pengantin akan diturunkan untuk menjalani proses mesegehagung. Setelah itu, kedua calon pengantin akan kembali ditandu menuju kamar pengantin. Lalu, Ibu dari calon mempelai pria akan memasuki kamar untuk melepaskan kain kuning yang menutupi tubuhnya untuk ditukarkan dengan dua ratus uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali.

 

6. Mekala-Kalaan (Madengen-Dengen)

Dengan dipandu oleh pendeta Hindu, prosesi mekala-kala dimulai tepat saat bunyi genta bergema. Pelaksanaan mekala-kala harus sesuai dengan tahapan-tahapan berikut ini.

  • Menyentuhkan Kaki pada Kala Sepetan

Upacara mekala-kala bertujuan untuk menyucikan serta membersihkan diri kedua calon mempelai. Calon mempelai pria akan memikul tegen-tegenan sementara calon mempelai wanita akan membawa bakul perdagangan. Lalu, keduanya akan berputar sebanyak tiga kali mengelilingi sanggar pesaksi, kemulan, dan penegteg. Kedua calon mempelai diwajibkan untuk menyentuhkan kaki pada kala sepetan.

  • Jual Beli

Bakul yang dibawa oleh calon mempelai wanita tersebut kemudian akan dibeli oleh calon mempelai pria. Prosesi tersebut merupakan analogi dari kehidupan berumah tangga yang harus saling melengkapi, memberi dan mengisi, hingga meraih tujuan yang dicita-citakan bersama.

  • Menusuk Tikeh Dadakan

Tikeh dadakan merupakan sebuah anyaman tikar yang terbuat dari daun pandan muda yang akan dipegang oleh calon mempelai wanita. Sedangkan calon mempelai pria akan memegang keris yang siap menghunuskan tikeh dadakan. Menurut kepercayaan umat Hindu, tikeh dadakan yang dipegang calon mempelai wanita menyimbolkan kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni), dan keris milik calon mempelai pria merupakan perlambangan dari kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga).

  • Memutuskan Benang

Sebelum memutuskan benang, kedua mempelai bersama-sama menanam kunyit, talas dan andong tepat di belakang merajan atau sanggah (tempat sembahyang keluarga), sebagai wujud melanggengkan keturunan keluarga. Baru setelah itu, memutuskan benang yang terentang pada cabang dadap (papegatan) yang menganalogikan bahwa kedua mempelai siap menanggalkan masa remaja untuk memulai hidup berkeluarga.

 

7. Upacara Mewidhi Widana (Natab Banten Beduur)

Upacara Mewidhi Widana merupakan prosesi penyempurnaan dalam pernikahan adat Bali dengan tujuan meningkatkan pembersihan diri kedua mempelai. Prosesi ini dilakukan di dalam pura keluarga mempelai pria yang dipimpin langsung oleh pemangku sanggah serta diantar pinisepuh.

 

8. Mejauman Ngabe Tipat Bantal

Prosesi mejauman merupakan suatu rangkaian penghormatan yang dilakukan setelah kedua calon mempelai terlah resmi menjadi suami-istri. Prosesi ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua, sanak saudara serta leluhur dari mempelai wanita. Hal ini dilakukan karena dalam adat Bali wanita yang sudah menikah maka akan mengikuti serta menjadi bagian keluarga besar dari sang suami. Dalam menjalani prosesi mejauman, mempelai wanita didampingi oleh keluarga dari mempelai pria yang dilengkapi dengan sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai kudapan khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, kekupa, nagasari, beras, gula, kopi, teh, sirih pinang, buah–buahan serta lauk pauk khas bali.

 

Dengan didasari prosesi yang unik dan menarik, Kotak Imaji akan memberikan konsep foto terbaik untuk mengangkat suasana dengan prosesi pernikahan adat Bali yang unik tersebut. Seluruh rangkaian dan komposisi foto akan menceritakan keseluruhan prosesi adat yang digunakan sesuai dengan photo story itu sendiri. Foto yang baik akan terlihat indah dan dapat menceritakan mengenai prosesi itu sendiri. Kotak Imaji akan merangkai kisah Anda menjadi sebuah photo story dengan album foto yang indah :)

 

 

http://www.kotakimaji.com

Videography, Photography, Wedding,

comments powered by Disqus